Uji Cekaman Kekeringan

Respon Tanaman Kopi (Coffea canephora) terhadap Cekaman Kekeringan melalui Aplikasi Berbagai Jenis Mikroba

Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Komoditas ini memiliki popularitas tinggi di antara tanaman perkebunan lainnya dan berperan penting bagi perkonomian Indonesia. Kopi sebagai produk agroindustri pangan sangat diminati oleh kalangan masyarakat, baik domestik maupun internasional. Komoditas kopi semakin populer dan dikomsumsi berbagai kalangan dalam bentuk minuman serta makanan yang beragam. Industri kopi di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat selama satu dekade terakhir. Jumlah kedai kopi di tanah air telah mencapai sekitar 10.000 gerai, dengan tingkat konsumsi 288.000 ton kopi pada periode 2024– 2025 (Media Indonesia 2025).  Popularitas kopi yang meningkat mempengaruhi pergeseran nilai kopi. Nilai kopi kini tidak hanya diukur terutama dari kuantitas dan kualitas biji, namun nilai tersebut semakin dikonstruksi melalui narasi, pengalaman, estetika ruang, serta relasi sosial yang melekat dalam praktik konsumsi (Oktariani 2025).

Upaya peningkatkan produktivitas dan mutu kopi harus terus dilakukan untuk mendukung daya saing kopi di Indonesia maupun di pasar dunia (Analianasari et al. 2022). Mutu atau kualitas kopi dipengaruhi oleh berbagai faktor. Secara umum, faktor yang mempengaruhi kualitas kopi adalah faktor budidaya dan pasca panen. Faktor budidaya menentukan kualitas kopi dari atribut sensori, sifat fisik, dan sifat kimia biji kopi. Dalam budidaya, penyiraman tanaman merupakan faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Tanaman yang mengalami kekurangan air akan menunjukkan beberapa perubahan, yang dipengaruhi oleh tingkat keparahan dan durasi terjadi cekaman tersebut terhadap suatu tanaman. Kondisi ini dapat terjadi pada semua tanaman termasuk tanaman kopi. Berdasarkan Matondang dan Nurhayati (2022) pada musim kemarau yang ekstrim, tanaman kopi banyak mengalami kerusakan dan bahkan kematian sehingga dapat mengakibatkan penurunan produksi hingga 60%.

Penelitian ini bertujuan mengetahui respon tanaman kopi terhadap cekaman kekeringan melalui aplikasi kombinasi berbagai jenis mikroba. Mikroba yang digunakan adalah bakteri Pseudomonas aeruginosa AP2 (disingkat AP2), Lactobacillus sp. P3 (disingkat P3), dan cendawan Chaetomium sp.. Perlakuan yang diberikan adalah kontrol (M0), AP2 + P3 (M1), AP2 + Chaetomium (M2), P3 + Chaetomium (M3), dan AP2 + P3 + Chaetomium (M4). Setelah aplikasi mikroba, tanaman disiram hingga jenuh air dan kemudian dibiarkan tanpa penyiraman hingga 4 minggu. Survival rate paling baik didapatkan dari perlakuan AP2 + Chaetomium dan AP2+P3+ Chaetomium dengan persentase 100%.

Keragaan bibit kopi 1 minggu setelah perlakuan

Keragaan bibit kopi 4 minggu setelah perlakuan


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *