
Memulihkan lahan suboptimum membutuhkan pendekatan yang mampu menjawab tantangan kondisi tanah di lapangan. Pada 6 Juli – 6 Agustus 2024 di Tol IKN Segmen 3B STA 6 dan Tol Balikpapan-Samarinda KM 62 (Balsam) PT Suryo Riset Indonesia (SRI) melakukan upaya revegetasi pada lahan dengan kondisi tanah sangat masam, dengan pH berkisar 2–3. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pertumbuhan tanaman karena tingkat kemasaman yang ekstrem dapat menghambat perkembangan akar dan membatasi ketersediaan unsur hara. Diperlukan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada penanaman, tetapi juga mempertimbangkan dukungan biologis bagi pertumbuhan tanaman di lingkungan yang kurang ideal.
Dalam kegiatan ini, SRI menerapkan penanaman Legume Cover Crop (LCC) atau tanaman legum penutup tanah sebagai bagian dari upaya revegetasi. Pendekatan ini dipadukan dengan pemanfaatan agens hayati untuk mendukung pertumbuhan tanaman pada kondisi lahan suboptimum. Integrasi agens hayati menjadi salah satu aspek yang membedakan pendekatan riset ini. Melalui pemanfaatan mikroorganisme bermanfaat, SRI mengeksplorasi potensi dukungan biologis bagi tanaman agar mampu tumbuh dan berkembang di tengah keterbatasan kondisi tanah.

Hasil pengujian tanah di lokasi revegetasi

Produk agens hayati yang digunakan

Treatment penyemrotan agens hayati
LCC berpotensi membantu melindungi permukaan tanah dari paparan langsung lingkungan, sekaligus menambah bahan organik melalui biomassa tanaman. Di sisi lain, agens hayati berpotensi mendukung proses biologis di sekitar perakaran yang berperan dalam pertumbuhan tanaman dan pemanfaatan unsur hara. Melalui kombinasi kedua pendekatan tersebut, SRI berupaya mengeksplorasi strategi revegetasi yang lebih adaptif terhadap tantangan lahan dengan tingkat kemasaman tinggi. Pelaksanaan riset di kawasan Tol IKN Segmen 3B dan Tol Balikpapan pada Juli–Agustus menjadi bagian dari upaya mengembangkan pendekatan berbasis hayati untuk mendukung pemulihan lahan.

Hasil pengujian pada hari ke-28 menunjukkan bahwa plot templok dengan penambahan mikroba P3 memiliki survival rate tertinggi dengan nilai 70% pada lokasi 3B dan 41% pada lokasi Balsam. Sedangkan kontrol memiliki survival rate 65% pada lokasi 3B dan 20% pada lokasi Balsam.
Bagi SRI, kegiatan ini merupakan bagian dari eksplorasi inovasi pertanian dan lingkungan melalui pemanfaatan agens hayati. Riset ini menegaskan pentingnya pendekatan yang mengintegrasikan tanaman dan mikroorganisme bermanfaat dalam menghadapi tantangan revegetasi lahan suboptimum. Karena memulihkan lahan bukan sekadar menumbuhkan tanaman, tetapi juga membangun peluang bagi kehidupan untuk kembali berkembang.
