ketika Cuaca Membantu Waktu Bertani

Cuaca menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan dalam kegiatan pertanian. Perubahan suhu, curah hujan, kelembaban udara, dan angin dapat memengaruhi kondisi tanaman serta kegiatan petani di lahan. Kondisi cuaca yang berbeda setiap hari membuat petani perlu menyesuaikan kegiatan pertanian dengan keadaan atmosfer (Kawanishi et al. 2016). Salah satu informasi yang dapat membantu petani dalam melakukan penyesuaian tersebut adalah perkiraan cuaca. Melalui informasi ini, petani dapat mengetahui gambaran kondisi cuaca yang mungkin terjadi dalam beberapa waktu ke depan.

(Sumber: Koran Jakarta.com)

Perkiraan cuaca dapat membantu petani menentukan waktu yang sesuai untuk melakukan berbagai kegiatan di lahan. Kegiatan seperti menanam, memupuk, menyemprot pestisida, dan memanen perlu mempertimbangkan kondisi cuaca agar dapat dilakukan dengan lebih tepat. Sebagai contoh, pemberian pupuk sebelum hujan deras dapat membuat sebagian pupuk terbawa oleh aliran air. Penyemprotan pestisida juga perlu dilakukan saat kondisi angin dan hujan mendukung agar bahan yang diberikan tidak mudah terbawa atau terbersihkan. Berdasarkan perkiraan cuaca, petani dapat mengatur waktu kegiatan berdasarkan kondisi yang diperkirakan.

Curah hujan menjadi salah satu unsur cuaca yang sangat berkaitan dengan kebutuhan air tanaman. Hujan dalam jumlah yang cukup dapat membantu memenuhi kebutuhan air, terutama pada lahan pertanian yang membutuhkan air hujan, hujan dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan genangan, erosi tanah, dan kerusakan pada tanaman tertentu. Sebaliknya, tidak adanya hujan dalam waktu yang cukup lama dapat membuat tanah menjadi lebih kering dan meningkatkan kebutuhan irigasi (Hariyanti et al. 2019). Informasi mengenai perkiraan hujan dapat membantu petani menyesuaikan pengairan dan kegiatan di lahan dengan kondisi yang akan terjadi.

Selain curah hujan, suhu udara juga dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Setiap tanaman memiliki kisaran suhu yang sesuai untuk mendukung proses pertumbuhannya selama berada di lahan (Adriani dan Karmila 2019). Suhu yang terlalu tinggi dapat meningkatkan penguapan air dari tanah dan menyebabkan tanaman membutuhkan lebih banyak air. Sementara itu, suhu yang terlalu rendah dapat menghambat beberapa proses pertumbuhan pada tanaman tertentu. Pemanfaatan prakiraan suhu, membantu petani lebih memperhatikan kondisi tanaman ketika terjadi perubahan suhu yang cukup besar.

Kecepatan dan arah angin juga menjadi informasi yang penting bagi kegiatan pertanian. Kondisi angin perlu diperhatikan terutama ketika petani melakukan penyemprotan pestisida atau pupuk cair pada tanaman. Angin yang terlalu kencang dapat membawa bahan semprotan keluar dari lahan yang sedang di semprot, sehingga penyemprotan menjadi kurang efektif. Selain itu, angin yang kuat dapat meningkatkan risiko kerusakan pada tanaman dengan batang atau bagian tanaman yang mudah patah atau hilang (Dulbari et al. 2018).

Perkiraan cuaca juga dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam menentukan waktu panen. Hujan yang turun saat proses panen dapat membuat kegiatan di lahan menjadi lebih sulit dan memperlambat proses pengangkutan hasil pertanian. Pada beberapa jenis komoditas, kondisi yang terlalu basah juga dapat meningkatkan risiko kerusakan selama penyimpanan. Jika terdapat informasi mengenai kemungkinan hujan, petani dapat menyesuaikan jadwal panen dan menyiapkan tempat penyimpanan hasil pertanian. Perencanaan tersebut dapat membantu petani mengurangi risiko kerusakan hasil akibat kondisi cuaca.

Meskipun demikian, perkiraan cuaca tidak dapat memberikan hasil yang benar-benar akurat mengenai kondisi yang akan terjadi. Cuaca dapat berubah dengan cepat karena dipengaruhi oleh berbagai kondisi atmosfer dan lingkungan. Oleh karena itu, petani perlu menggunakan perkiraan cuaca sebagai salah satu bahan pertimbangan dan tetap memperhatikan kondisi cuaca yang terjadi secara langsung di lahan. Informasi dari sumber resmi seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika juga dapat digunakan untuk memperoleh informasi cuaca yang lebih terpercaya. Penggunaan informasi cuaca bersama dengan pengamatan kondisi lahan dapat membantu petani menyesuaikan kegiatan pertanian dengan keadaan atmosfer yang sedang berlangsung.

Daftar Pustaka

Andriani V, Karmila R. 2019. Pengaruh temperatur terhadap kecepatan pertumbuhan kacang tolo (Vigna sp.). STIGMA: Jurnal Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Unipa. 12(1):49–53. doi:10.36456/stigma.vol12.no01.a1861.

Dulbari D, Santosa E, Koesmaryono Y, Sulistyono E. 2018. Pendugaan kehilangan hasil pada tanaman padi rebah akibat terpaan angin kencang dan curah hujan tinggi. Indonesian Journal of Agronomy. 46(1):17–23. doi:10.24831/jai.v46i1.14376.

Hariyanti KS, June T, Koesmaryono Y, Hidayat R, Pramudia A. 2019. Penentuan waktu tanam dan kebutuhan air tanaman padi, jagung, kedelai dan bawang merah di Provinsi Jawa Barat dan Nusa Tenggara Timur. Jurnal Tanah Dan Iklim. 43(1):83–92.

Kawanishi M, Anggarendra R, Farid FY. 2016. Assessment of use of meteorological information among farmers: A case study in Indonesia. Journal of Agricultural Meteorology. 72(2):72–79. doi:10.2480/agrmet.D-15-00024.

Koran Jakarta. 2025. BMKG tambah radar cuaca di kawasan maritim untuk tingkatkan akurasi peringatan dini. Koran Jakarta, 11 November 2025 [Internet]. [diakses 2026 Sep 28]. https://koran-jakarta.com/2025-11-11/bmkg-tambah-radar-cuaca-di-kawasan-maritim-untuk-tingkatkan-akurasi-peringatan-dini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *