Musim menjadi salah satu faktor penting dalam kegiatan pertanian. Waktu tanam, ketersediaan air, pertumbuhan tanaman, hingga waktu panen sangat dipengaruhi oleh kondisi musim. Ketika pola hujan dan kemarau berubah, petani perlu menyesuaikan kembali kegiatan budidayanya. Perubahan curah hujan dapat menyebabkan awal musim hujan dan kemarau bergeser dari pola yang biasa terjadi. Kondisi ini dapat menyulitkan petani dalam menentukan waktu tanam karena ketersediaan air menjadi tidak mudah diperkirakan. Penentuan awal musim tanam sendiri berkaitan erat dengan kondisi curah hujan, terutama pada pertanian yang bergantung pada air hujan (Surmaini dan Syahbuddin 2016).

(Sumber: MTani Group.com)
Musim kemarau yang lebih panjang dapat menyebabkan kekurangan air bagi tanaman. Kondisi tersebut dapat menghambat pertumbuhan dan menurunkan hasil panen, terutama pada lahan yang bergantung pada curah hujan. Kejadian El Niño juga dapat meningkatkan risiko kekeringan dan berkaitan dengan penurunan produksi padi di beberapa wilayah (Mulyaqin 2020). Sebaliknya, curah hujan yang terlalu tinggi juga dapat merugikan petani. Hujan berlebihan dapat menyebabkan lahan tergenang, menghambat kegiatan budidaya, serta meningkatkan kelembapan yang mendukung perkembangan penyakit tanaman. Pada tanaman teh di Jawa Barat, perubahan curah hujan akibat kondisi El Niño dan La Niña dilaporkan dapat memengaruhi produktivitas tanaman (Widyastuti et al. 2023).

(Sumber: CNN Indonesia.com)
Dampak perubahan musim tidak hanya dirasakan pada tanaman, tetapi juga dapat memengaruhi pendapatan petani. Ketika hasil panen menurun, petani dapat mengalami kerugian dan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk pengairan, pengendalian penyakit, atau penanaman ulang. Perubahan produksi juga dapat memengaruhi ketersediaan dan harga beberapa komoditas pertanian (Fitriana et al. 2022). Untuk mengurangi risiko tersebut, petani dapat menyesuaikan waktu tanam dengan kondisi musim dan informasi iklim yang tersedia. Pemilihan varietas, pengelolaan air, serta perbaikan drainase juga dapat dilakukan sesuai kondisi lahan. Penyesuaian jadwal tanam dan penggunaan sumber air alternatif menjadi beberapa bentuk adaptasi yang dilakukan petani ketika menghadapi anomali iklim (Wahyunto et al. 2007).
Perubahan musim memang tidak dapat dikendalikan, tetapi dampaknya dapat dikurangi dengan perencanaan budidaya yang lebih sesuai dengan kondisi lapangan. Informasi iklim yang tepat dapat membantu petani menentukan waktu tanam dan mengantisipasi risiko yang mungkin terjadi. Dengan begitu, kegiatan pertanian tetap dapat berjalan meskipun kondisi musim semakin sulit diprediksi.
Daftar Pustaka
Fitriana R, Siregar H, Anggraeni L. 2022. The impact of El Nino and La Nina towards the prices of cabbage and shallot in Indonesia. Jurnal Manajemen dan Agribisnis. 19(2):195–205.
Mulyaqin T. 2020. The impact of El Niño and La Nina on fluctuation of rice production in Banten Province. Agromet. 34(1):34–41.
Surmaini E, Syahbuddin H. 2016. Kriteria awal musim tanam: tinjauan prediksi waktu tanam padi di Indonesia. Jurnal Tanah dan Iklim. 40(2):75–86.
Wahyunto, Rachman A, Abdurachman A. 2007. Antisipasi dan mekanisme pengambilan keputusan petani dalam pengendalian dampak anomali iklim. Agromet. 21(1):47–54.
Widyastuti D, et al. 2023. Changing rainfall and its adaptation strategies on tea plantation in West Java, Indonesia. Jurnal Agronomi Indonesia. 51(2):257–268.
