
Antraknosa atau patek merupakan salah satu penyakit yang seringkali dijumpai pada tanaman cabai. Penyakit ini menyebabkan buah cabai menjadi berwarna kecoklatan dan busuk. Penyebab dari antraknosa pada cabai adalah jamur/cendawan dari genus colletotrichum yang digolongkan menjadi lima spesies utama yaitu C. gloeosporioides, C. acutatum, C. dematium, C. capsici, dan C. coccodes. Di Indonesia, patogen antraknosa yang paling banyak dijumpai menyerang tanaman cabai adalah C. capsici, C. gloeosporioides, dan C. acutatum (Syukur et al. 2009).
Kerugian yang disebabkan antraknosa adalah penurunan produksi dan kehilangan hasil hingga 100%. Antraknosa tidak hanya merugikan petani tetapi juga pedagang dan konsumen karena buah yang terlihat bersih serta sehat ketika panen dapat mengalami pembusukan saat distribusi maupun penyimpanan. Hal ini disebabkan masa inkubasi cendawan Colletotrichum spp. berkisar antara 3-12 hari ( Budi et al. 2023; Fahmi et al. 2024; Herwidyarti et al. 2013; Nurbailis et al. 2017). Dimana hal tersebut berarti gejala antraknosa baru akan terlihat 3-12 hari setelah terpapar spora cendawan Colletotrichum spp. Perbedaan masa inkubasi bergantung kepada varietas cabai, spesies colletotrichum, kondisi lingkungan, dan faktor lainnya (Adhni et al. 2022).
Penyakit antraknosa tidak hanya menyerang tanaman cabai pada bagian buah, tetapi juga batang, ranting, dan daun. Gejala awal yang ditimbulkan penyakit antraknosa ditandai dengan adanya bercak coklat kehitaman kemudian lama kelamaan meluas membentuk lingkaran seperti cincin dan membentuk lekukan. Buah yang terinfeksi akan mengkerut, membusuk, dan rontok, sedangkan pada daun akan terlihat bercak cokelat tidak beraturan. Infeksi pada persemaian ditunjukkan dengan adanya hawar pada bibit.
Cendawan Colletotrichum spp. dapat menularkan penyakit antraknosa melalui udara dan benih. Spora Colletotrichum spp. disebarkan oleh angin, percikan air, manusia, hewan, dan alat pertanian kemudian menempel pada inang. Umumnya, infeksi terjadi selama cuaca hangat dan basah, kisaran suhu 27ºC dengan kelembapan tinggi 80% yang optimum bagi perkembangan penyakit antraknosa. Tahap infeksi cendawan dimulai dari perkecambahan spora pada permukaan jaringan tanaman, kemudian jaringan akan mati dan nekrosis berlekuk hitam yang selanjutnya terjadi perkembangan aservulus dengan massa konidia pada daerah terinfeksi (Anggraeni et al. 2019). Pada benih, cendawan Colletotrichum spp. dapat bertahan dalam bentuk miselium dan stroma (Yulyatin et al. 2023).
Antraknosa tidak hanya menyerang tanaman cabai, tetapi juga dapat menyerang tanaman lain seperti bawang merah, tomat, terong, melon, semangka, mentimun, pepaya, dan sebagainya. Pencegahan penyakit antraknosa dapat dilakukan dengan menggunakan benih yang sehat dan tidak tertular antraknosa, membuat drainase lahan yang baik, menjaga kebersihan lingkungan budidaya, mengatur jarak tanam agar tidak terlalu rapat terutama pada musim hujan, serta menggunakan biostimulant dan biopestisida yang tidak memberikan dampak buruk pada lingkungan. Jika terdapat bagian tanaman yang sudah terinfeksi antraknosa, segera eliminasi agar spora tidak menyebar.
